Videos

Duhh…beratnya isi tas sekolah anak kita

Beredar video viral seorang siswa yang tidak sanggup mengangkat tas sekolahnya sendiri. Sangat memprihatinkan. Seperti apakah ulasannya, apa akibatnya dan cara mengatasinya?

Beratnya tas sekolah anak kita….

Video ini, berbicara tentang seorang anak kecil yang kesulitan menggendong tas sekolahnya. Dia sudah mencoba berkali-kali – tetapi tetap tidak bisa mengangkat tas sekolahnya yang terlihat begitu penuh dan berat. Sampai akhirnya dia menyeret tas sekolahnya – hingga akhirnya datang seorang bapak yang menolong mengangkat tas nya ke punggung dan menggendongnya.

Tentu saja, video di atas membuat kita semua miris. Sebegitu beratnya kah beban pendidikan anak kita? Apakah pendidikan (baca: materi di buku) sebegitu banyaknya untuk anak kita – sehingga dia sampai tidak mampu mengangkatnya? Sebaliknya – jika memang begitu banyaknya dan begitu pentingnya materi dalam buku-buku tersebut – lalu; apakah benar semua “materi penting” tersebut memang terpakai dan berguna dalam kehidupan? JIKA, sekalipun pada akhirnya semua berguna – apakah tidak ada jalan untuk mengurangi beban buku tersebut supaya minimal terangkat oleh anak kita? Karena pada kenyataannya – beban berat yang di bawa anak dalam tas sekolah mereka – yang harus mereka lakukan minimal 6-9 tahun (jenjang SD dan SMP) tentunya akan berdampak pada kesehatan mereka.

Bagaimanakah seharusnya kita menyikapinya – dan bagaimanakah solusi dunia pendidikan – khususnya sekolah-sekolah di Pematangsiantar yang terkenal dengan beban materi sekolah yang menumpuk. Yup, problem ini mungkin tidak di hadapi oleh sebagian sekolah yang bahkan tas siswanya terlihat begitu kempes seolah di sekolah tidak membutuhkan buku pelajaran

Jumlah Mata Pelajaran; Berapa Banyak?

Berapa banyakkah materi pelajaran yang diberikan oleh anak kita?

Yup, secara struktur pembelajaran – materi yang diberikan sekolah-sekolah memang di tentukan oleh Kementerian Pendidikan. Berapa banyak? Berapakah todal mata pelajaran siswa SD? Siswa SD memiliki 7 mata pelajaran. Siswa SMP memiliki 11 mata pelajaran. Siswa SMA memiliki 17 mata pelajaran. Itu pun masih mata pelajaran wajib. Belum di tambah mata pendidikan lokal seperti bahasa daerah, kesenian daerah atau untuk SMA misalnya ada mata pelajaran khusus peminatan dan sebagainya.

Untuk siswa SD sendiri, memang jumlah mata pelajaran sudah di kurangi TETAPI tidak mengurangi materi. Misalnya, mata pelajaran tematik – dalam satu buku terdiri dari 2-4 mata pelajaran misalnya IPS, IPA, PKn dan sebagainya. Maka; sangat wajar jika buku pelajarannya menjadi TEBAL. Kita tidak membahas bagaimana sulitnya mereka belajar karena 1 buku pelajaran yang mengandung banyak topik.

Akibatnya, tidak heran jika buku siswa menjadi sangat tebal. Sekaligus juga tentunya; sangat mengherankan jika kita mendapati sekolah yang seolah tas siswanya hanya berisi 1-2 buku sehingga sangat kempes.

Memang kita tidak bisa berbuat banyak dengan banyaknya mata pelajaran; tetapi apakah anak kita memang butuh banyaknya materi pelajaran yang diajarkan tersebut?

Materi Pelajaran; Bagaimana Mengevaluasinya?

Yup,
sekarang kita masuk kepada materi pelajaran yang tertera dalam buku pelajaran tersebut. Bagaimana kita mengevaluasinya? Mungkin, dari celah ini kita bisa memiliki harapan mengurangi beratnya tas anak kita.

mata pelajaran sekolah di pematangsiantarYa, sebenar-benarnyalah, pemerintah hanya memberikan pedoman mengenai keahlian khusus yang diharapkan dimiliki oleh siswa setelah mata pelajaran tersebut terlampaui. Misalnya, mata pelajaran PKn, siswa di harapkan bisa memiliki pemahaman kebangsaan demikian dan seterusnya. JADI, pemerintah sebenarnya tidak memberikan berapa banyak materi yang di berikan namun HANYA kemampuan yang di harapkan bisa diperlihatkan oleh siswa. JADI, materi yang banyak dalam buku itu sebenarnyalah; ditulis oleh penerbit buku – yang olehnya kita membelinya.

Apakah materi dalam buku  ini wajib? SAMA SEKALI TIDAK. Bahkan, guru yang berkualitas sebenarnya bisa memberikan materi yang lebih dalam dengan mengambil beberapa point penting dari buku-buku sejenis. Jadi – sebenarnya siswa bisa untuk tidak menggunakan buku dari penerbit SEANDAINYA guru bisa lebih tekun dan kreatif meringkas pembelajaran HANYA YANG BENAR-BENAR PENTING untuk di ajarkan. Yup, hal ini bisa di lakukan dengan mengambil inti pengajaran dan mengembangkannya sendiri dalam kelas.

Karena banyak yang terjadi adalah – terutama di mata pelajaran sosial – guru mengajar di kelas dengan hanya sekedar membaca dan menjelaskan dari buku penerbit tersebut. Seandainya saja – guru mengabaikan buku-buku penerbit yang tebal – namun mengambil sari pembelajaran penting dari banyak buku, niscayalah anak kita bisa terhindar dari banyaknya bawa buku.

Yup, dengan konsekuensi – beratnya membawa buku bukan di tanggung oleh siswa tetapi guru.

sekolah di pematangsiantar

Sekolah; Apakah Bisa Menjadi Solusi?

Tentu, sekolah tentu bisa menjadi bagian dari solusi

Setelah misalnya kita bisa mengurangi banyaknya materi dalam buku pelajaran – sekarang kita melihat apakah ada langkah yang bisa dilakukan oleh sekolah untuk membantu siswanya?

Yup.
Sejujurnya, tas berat siswa banyak juga yang berisi buku tulis tebal – yang sebagian besarnya masih kosong – bahkan hingga dia naik kelas. Namun buku tulis tebal itu terus menerus di bawa. Jika jumllah buku tebal kosong yang harus di bawa itu bisa di kurangi – heyy…kita sudah mengurangi satu sumber beban berat tas anak kita.

Yang kedua, ada banyak guru yang mewajibkan siswa memiliki beberapa buku tulis. Misal; buku catatan – buku latihan – buku PR (bisa sampai buku PR 1 dan PR 2). Dan semua buku itu di bawa setiap hari sesuai jadual. Bayangkan, seandainya sehari itu ada 5 pelajaran, dan masing-masing pelajaran memiliki 3 buku tulis, maka sudah 15 buku tulis yang di bawa. Belum di tambah buku pelajaran dari penerbit – yang bisa 2 atau 3 buku (buku materi, buku latihan, buku bacaan dan seterusnya). Duh…sudah total minimal 20 buku yang mereka bawa. SANGAT WAJAR jika anak kita jadi sangat berat tas nya.

Mungkin, bisa di tiru jika siswa menyimpan catatannya di binder, sehingga tidak perlu terus menerus membawa buku catatan kosong yang tebal. Bahkan mungkin, kenapa mereka harus mencatat lagi? Bukankah waktu adalah sesuatu yang sangat berharga? Toh sudah ada mesin fotocopy, kok menghabiskan waktu dengan mencatat? Atau bahkan, sekarnag lebih modern lagi menggunakan materi digital seperti ebook, ipad, video dan sebagainya.

sekolah di pematangsiantar

Menentukan Pendidikan Terpenting Anak

Pada akhirnya, evaluasi beratnya tas sekolah anak kita menuntun kita pada pertanyaan terakhir – apakah pendidikan terpenting anak kita.

Sejujur-jujurnya – banyak sekali – sangat banyak sekali; mata pelajaran yang di berikan bahkan tidak terpakai sama sekali dalam kehidupan. Sejujurnya – apakah dalam kehidupan misalnya; setelah selesai sekolah entahkah di pekerjaan atau kehidupan setiap hari – adakah misalnya kita di tanyakan; tanggal berapa Perang Padri di mulai? Atau tanggal berapa Imam Bonjol lahir?

Maksud saya, bukan pengetahuan-pengetahuan itu tidak penting. Namun, banyak sekali penekanan pembelajaran yang kita temukan untuk anak-anak kita adalah pembelajaran hafalan yang di tekankan mati-matian dan menghabiskan energi anak. PADAHAL, kita sendiri mengetahui bahwa materi tersebut tidak digunakan. Yup, kita banyak sekali berkutat pada kulit pengetahuan – dan tidak mau “mengunyah daging” ilmu pengetahuan. Misalnya; mengapa kita berkutat hanya kepada tanggal mulainya Perang Padri dan tanggal lahir Imam Bonjol – namun tidak mau mempelajari manfaat atau dampak dari Perang Padri tersebut bagi masyarakat. Kita tidak mau menyelami suasana batin masyarakat – yang bahkan sudah menjerit-menjerit ketakutan ketika mendengan Imam Bonjol datang ke satu daerah – sehingga sekarang pun di pertanyakan; layakkah Imam Bonjol di sebut pahlawan.

Pendidikan – seharusnya tidak sekedar memberi informasi – tetapi seharusnya mentransformasi. Mengubah bukan seorang anak dari yang tidak tau menjadi tau – tapi dari seorang tidak berpengetahuan menjadi seorang berpendidikan.

Huh…jika ada sekolah berpretasi di Pematangsiantar yang sangat terkenal dengan prinsip-prinsip ini – dipastikan sekolah itu akan kebanjiran murid.

Mari insan pendidikan di kota Pematangsiantar – kiranya mau memberikan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak kita. Semoga, pendidikan di Pematangsiantar semakin bersinar dan berprestasi.

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published.