News & Bisnis

Guru Musik di Purbalingga Cabuli 7 Siswa, Paksa Korban Tiru Adegan di Komik

Viral berita mengejutkan terbongkarnya aksi bejat seorang Guru Seni Musik SMP di Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga, Jawa Tengah yang cabuli muridnya. Dimana korbannya adalah muridnya sendiri yang masih dibawah umur.
Guru Cabuli

Diketahui tersangka yang berinisial ASP (38) ini telah ditangkap oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor (Satreskrim Polres) Purbalingga pada hari Jumat, 2 Maret 2022.   

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Purbalingga Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Era Johny Kurniawan mengungkapkan, kasus ini berhasil terungkap dari laporan masyarakat. “Kami melakukan penyelidikan di lapangan. Berdasarkan hasil penyelidikan, kami menemukan ada tujuh murid perempuan yang telah dicabuli oleh tersangka,” kata Era dalam konferensi pers di Mapolres Purbalingga, pada hari Selasa, 8 Maret 2022.

Berikut ini beberapa fakta mengenai kasus pencabulan guru seni musik di Karangmoncol, Purbalingga yang berhasil diungkap oleh Polres Purbalingga:

Pencabulan Sudah Dilakukan selama 8 tahun

Guru Cabuli

Menurut hasil penyelidikan polisi, aksi bejat tersangka tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2013 hingga 2021. Para korban saat kejadian rata-rata masih berusia 14 tahun. Sementara itu dari ketujuh korban, lima di antaranya sudah melakukan hubungan badan, satu siswa baru dicabuli dan satu lainnya sebatas menonton video dewasa bersama tersangka.

Aksi bejad Pelaku Dilakukan di ruang Seni Musik

Kapolres Purbalingga menjelaskan, seluruh aksi bejat tersangka dilakukan di ruang seni musik. Modus yang dilakukan tersangka yakni mengajak korban ke ruang seni musik untuk mengambil buku. Sesampainya di ruang seni musik, tersangka mengunci pintu dari dalam dan mengajak korban mengobrol. Tersangka juga diperlihatkan video rekaman kakak kelas korban yang sebelumnya pernah dirudapaksa oleh tersangka. “Lalu tersangka memeluk korban dari belakang. Saat korban berteriak dia membungkam mulutnya dan memegangi tangannya hingga tak berdaya,” jelas Kapolres.  

Direkam dengan laptop sekolah

Mirisnya semua adegan tak senonoh tersebut direkam tersangka menggunakan laptop fasilitas sekolah. “Tersangka mengancam korban jika tidak mau melayani maka akan diberi nilai jelek dan video dengan korban yang direkam tersangka akan disebarkan,” kata Era.

Kemudian hasil rekaman video tersebut digunakan untuk mengancam korban agar mau melayani nafsu bejat tersangka hingga mereka lulus. “Rata-rata korbannya sudah lebih dari dua kali dirudapaksa oleh tersangka. Perbuatan pelaku seluruhnya dilakukan di sekolah, baik saat jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran,” imbuhnya.

Terinspirasi Komik Henta

Kepada Polisi, tersangka ASP mengaku melakukan perbuatan keji tersebut karena terinspirasi komik porno atau hentai. Gambar-gambar kartun dewasa tersebut disimpan tersangka di handphone miliknya serta laptop milik sekolah yang dibawa olehnya.

“Tersangka menyimpan koleksi lebih dari 4.000 video kartun dewasa yang diperlihatkan kepada korban sebelum beraksi, kami juga telah mengkonfirmasi kepada para korban yang sebagian saat ini telah lulus sekolah,” ujar Era.

Sampai-sampai saking terobsesinya dengan kartun hentai, tersangka juga memaksa korban untuk memperagakan sejumlah adegan yang ada di dalam video kartun hentai miliknya.

Bupati Tiwi Beri Sanksi Tegas Oknum Guru Musik ASP

Guru Cabuli

Aksi bejat oknum guru pelajaran kesenian di sebuah SMP di Purbalingga, mendapat sorotan dari Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi yang turut menyesalkan kasus pencabulan yang dilakukan oleh guru musik seni berinisial ASP, dari SMP Negeri di Karangmoncol tersebut.

Tidak hanya itu bahkan Dyah juga mengutuk perbuatan tersangka dan memerintahkan dinas terkait untuk memberikan sanksi tegas kepada pegawai di Dinas Pendidikan Purbalingga tersebut.

“Kami menugaskan Dindikbud untuk mengecek status kepegawaiannya. Kalau yang bersangkutan seorang PNS pasti ada mekanisme yang harus dijalankan dan pastinya ada sanksi disiplin pegawai,” katanya.

Dyah turut prihatin dengan peristiwa yang mencoreng wajah pendidikan di Purbalingga tersebut. Terlebih lagi menurutnya kasus pencabulan tersebut dilakukan oleh seorang pendidik berinisial ASP tersebut bahkan berlangsung selama delapan tahun lamanya.

“Untuk pembelajaran bagi semua, pastinya harus ada sanksi tegas bagi yang bersangkutan,” tegasnya.

Bupati Minta ada pendampingan untuk para korban

Untuk menghilangkan trauma korban, Bupati  Dyah juga memerintahkan Tim Hapus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (Harapan) Purbalingga untuk melakukan pendampingan kepada korban pencabulan oknum guru.

Pendampingan tersebut sangat diperlukan oleh para korban yang didominasi oleh siswa yang masih di bawah umur.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinsos Dalduk KB P3A Purbalingga Yuniati Adiningsih mengatakan, upaya pendampingan Tim Harapan lebih ditekankan pada trauma healing.

BACA ARTIKEL LAINNYA Binary Option, Si Biang Kerok Penyebab Doni Salmanan Berharta 582 Miliar Ditangkap

“Kita akan bantu korban karena mereka mempunyai hak-hak yang harus dilindungi secara hukum. Trauma Healing juga akan kami berikan bersama dampingan psikolog,” ujar Yuniati.

Untuk saat ini, kata Yuniati, para korban masih dalam pendampingan unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Purbalingga.

Tim Harapan akan secepatnya akan turun ke bawah untuk menggali dan melakukan pendampingan baik ke korban maupun orang tuanya.

“Konseling dan pemberian motivasi sangat penting agar para korban  dan keluarganya bisa bangkit dari permasalahan tersebut,” kata Yuniati.

Kemen PPPA: Oknum Guru Harus Dihukum Kebiri Kimia

Guru Cabuli

Terkait ulah bejat oknum guru  SMP di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah yang melakukan pencabulan pada muridnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) sangat menyesalkan kejadian tersebut.

Untuk kasus tersebut Kemen PPPA meminta agar penegak hukum memberikan hukuman setimpal kepada pelaku sesuai peraturan perundang-undangan.

“Kami mengharapkan pelaku mendapat hukuman maksimal sesuai dengan aturan yang berlaku dan akan mengawal kasus ini hingga tuntas,” kata Deputi Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA Nahar dalam siaran pers, Jakarta, pada hari Kamis, 10 Maret 2022.

Untuk itu dia mengatakan, bila pelaku terbukti memenuhi unsur Pasal 76D UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pelaku dapat dijerat dengan Pasal 81 ayat (1), (2), (3), (5), (6) dan (7) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan yang ancaman maksimal-nya berupa pidana mati, seumur hidup atau penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun.

Nahar juga menambahkan, karena status pelaku sebagai pendidik juga dapat ditambahkan sepertiga dari ancaman pidana, serta dapat diberikan pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku dan diberikan tindakan berupa kebiri kimia serta pemasangan alat pendeteksi elektronik.

Selain itu pihaknya mengharapkan satuan pendidikan dapat memperketat pengawasan terhadap kegiatan guru dan siswa, guna mencegah terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah.

“Kemen PPPA mengecam keras perbuatan guru yang melakukan pemerkosaan terhadap tujuh siswanya. Kemen PPPA menegaskan tidak ada toleransi atau zero tolerance terhadap pelaku kekerasan seksual,” katanya.

Sehingga akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 8 ayat (1), (2) dan (3) UU RI Nomor 1 tahun 2016, tentang perubahan kedua atas UU RI nomor 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak. Selain itu, tersangka juga dijerat dengan pasal 32 UU RI nomor 44 tentang pornografi.

Hukuman tersebut bisa ditambah sepertiga dari ancaman pidana karena dilakukan oleh tenaga kependidikan. “Ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara. Selain itu tersangka juga diancam denda maksimal Rp 5 miliar,” terang Kapolres Purbalingga.

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published.