News & BisnisVideos

Ibu-Ibu Demo Datangi Anies Baswedan, Minta Air bersih

Sejumlah ibu-ibu datangai kantor Gubernur DKI Jakarta,  Anies Baswedan,  mereka minta jatah air bersih yang sudah puluhan tahun tidak mereka dapatkan. Pada aksi demo di Jakarta tersebut yang terdiri dari ibu rumah tangga itu, mereka semua membawa jerigen kosong. 
Source : KOMPAS TV

Sejumlah ibu-ibu datangai kantor Gubernur DKI Jakarta,  Anies Baswedan,  mereka minta jatah air bersih yang sudah puluhan tahun tidak mereka dapatkan. Pada aksi demo di Jakarta tersebut yang terdiri dari ibu rumah tangga itu, mereka semua membawa jerigen kosong. 

Selama ini krisis air bersih melanda warga tiga kampung di wilayah Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Sehingga sebanyak tiga kampung, yakni perkampungan Blok Limbah, Blok Eceng, dan Blok Empang sudah sejak lama tidak mendapat air bersih.

Untuk itu, sejumlah warga meminta Pemprov DKI Jakarta segera memberikan fasilitas pelayanan air bersih. Hal tersebut, juga disampaikan oleh Muslimin, warga Muara Angke yang turut datang ke Balai Kota DKI Jakarta.

Puluhan Tahun Tak Dapat Jatah Air Bersih, Warga Muara Angke temui Kantor Anies Baswedan

Sejumlah warga RW 022 Muara Angke, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara mendatangi kantor Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan selian demo air bersih juga untuk menyerahkan surat pengajuan pelayanan air bersih yang berlangsung di Balai Kota, DKI Jakarta, pada hari Selasa, 22 Februari 2022. 

Warga yang datang sekitar 22 orang itu adalah merupakan warga dari Kampung Blok Limbah, Blok Eceng dan Blok Empang. Kedatanga mereka ke Balai Kota  guna menyerahkan surat pengajuan pelayanan air bersih kepada orang nomor satu di DKI Jakarta ini.

“Kepada yang terhormat Gubernur DKI Jakarta Bapak Anies Baswedan. Kami adalah anggota Koperasi Limbah Jaya bersama dan Koperasi Blok Eceng serta Koperasi Konsumen Empang Sejahtera melalui surat ini kami bermaksud mengajukan permohonan layanan air minum kepada Pak Anies,” ucap Nurweni perwakilan warga RW 022, di depan Balai Kota, Jakarta Pusat, pada hari Selasa, 22 Februari 2022.  

Wanita berusia 32 tahun ini menjelaskan bahwa permukiman kampung di wilayah Blok Limbah, Blok Eceng, dan Blok Empang telah ada dan berkembang sejak tahun 1980an dengan mayoritas pekerjaan warga adalah sebagai nelayan tradisional yang meliputi nelayan tangkap, nelayan pengolah, dan pedagang ikan.

Sejak pertama kali kampung bertumbuh hingga sekarang belum pernah, ada layanan air minum dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang masuk ke lokasi kecuali satu titik kios air yang dibangun pada tahun 2020 di Kampung Blok Eceng, tapi itupun dioperasikan secara komersial.

“Saat ini jumlah warga di Blok Limbah sebanyak 368 jiwa, Blok Eceng sebanyak 678 jiwa, dan Blok Empang sebanyak 3.922 jiwa,” tambahnya.

Secara terpisah, dikatakan oleh Ketua Koperasi, Muslimin, bahwa warga Muara Angke yang mayoritas bekerja sebagai nelayan tradisional dan pedagang ikan, mereka mengonsumsi air minum dengan membeli air isi ulang galon atau air kemasan botol.

“Selama ini warga rata-rata mengeluarkan Rp13.000 per hari tiap keluarga untuk keperluan air minum dan masak.

Sedangkan untuk keperluan cuci dan mandi warga menggunakan air tanah dalam dan pikulan dengan kebutuhan 200 liter per keluarga untuk satu hari dengan merogoh kocek Rp25.000,” jelas Muslimin.

Warga Penjaringan Datangi Anies Tuntut Layanan Air Bersih

Tampak dalam aksi demo air bersih tersebut seorang warga Muara Angke memberikan minum kepada anaknya saat melakukan aksi di depan Balai Kota DKI Jakarta, pada hari Selasa, 22 Februari 2022.

Para warga yang berasal dari Blok Limbah, Blok Eceng dan Blok Empang RW 22 Muara Angke menggelar aksi terkait krisis air bersih yang melanda di kampung mereka yang belum mendapatkan layanan air bersih sejak tahun 1980-an.

Sekitar puluhan orang yang mendatangi kantor Balai Kota adalah warga yang mengatasnamakan Koperasi Konsumen Limbah Jaya, dan selaku warga dari beberapa daerah di Penjaringan, Jakarta Utara, mendatangi Balai Kota DKI Jakarta.

“Akses air bersih sejak saya lahir memang sedikit. Sekarang pipa air pada mati,” kata Nur Weni, perwakilan warga dari Blok Eceng Muara Angke, yang ikut melakukan unjuk rasa di lokasi, pada hari Selasa, 22 Februari 2022.

Bahkan lebih lanjut dia juga mengatakan, sejauh ini pembelian air untuk digunakan mandi, cuci, kakus, mengandalkan penjual pikulan. dimana harga per jerigen pikulan mencapai Rp 5 ribu rupiah.

Koordinator warga, Bani Sadar juga mengatakan bahwa aspirasi dari pihaknya sudah diterima oleh pihak Pemprov DKI melalui Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Afan Adriansyah.

Bani juga mengatakan, dimana tuntutan itu terdiri dari ribuan jiwa yang tinggal di Kampung Blok Limbah, Kampung Blok Eceng dan Kampung Blok Empang, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Saat ini jumlah warga di Blok Limbah ada 368 jiwa, Blok Eceng 678 orang dan Blok Empang ada 3.922 jiwa,” tuturnya.

Di dalam keterangannya, sejumlah warga yang berkumpul tersebut meminta adanya pelayanan air bersih, dimana utamanya untuk minum, kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan.

Bani juga menerangkan bahwa sejak pertama kali kampung-kampung tersebut tumbuh di DKI, belum ada pelayanan air bersih hingga sekarang.

“Mudah-mudahan apa yang menjadi keinginan saya, kami semua, bisa diterima dan direalisasi,” jelas dia.

Sejauh ini kata dia, para warga hanya memanfaatkan air minum kemasan dan isi ulang galon untuk mengkonsumsi air minum. Khusus air untuk mandi, cuci dan keperluan lain, kata dia, jauh lebih banyak, bahkan bisa mencapai 200 liter.

“Untuk minum rata-rata dua liter. Untuk yang lain sehari bisa 25 liter. Jika dirupiahkan air minum sehari satu keluarga sekitar Rp 13 ribu. Belum termasuk biaya air harian cuci, mandi yang bisa mencapai Rp 25 ribu,” tutur Bani.

Sehingga berdasarkan perincian biaya itu, kata dia, pihaknya menuntut PAM Jaya untuk menyediakan pelayanan suplai air bersih kepada tiga blok kampung.

Menurutnya hal itu, sesuai dengan Pergub Nomor 16 Tahun 2020. Tak hanya itu, pihaknya juga menuntut adanya kios air sebagai pelayanan sementara sambil menunggu pemasangan perpipaan.

Wakili Anies Baswedan, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Temui Warga yang Demo

Ketika mendatangi para warga yang demo air bersih di depan gerbang Balai Kota, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Afan Adriansyah, sekaligus mewakili Anies Baswedan selaku Gubernur DKI, mengatakan bahwa semuanya sedang direncanakan pihaknya melalui PDAM pada tahun ini.

Afan menjelaskan bahwa untuk seluruh perencanaan yang dilakukan oleh PDAM itu juga telah dialokasikan sebanyak 100 kios air. “Itu ada tiga tahap, saya akan cek nanti,” katanya.

Namun ketika ditanya bagaimana target penyelesaiannya, Afan tidak menjawab secara terperinci. Menurutnya, hal itu akan diselesaikan secepatnya, karena ada penentuan pengelolaan, tarif dan subsidi bagi masyarakat.

“Tarif, ada tapi sangat murah kok jangan khawatir,” jelasnya.

Selain itu Afan mengatakan bahwa upaya itu akan sesuai dengan Pergub 57 Tahun 2021 tentang perubahan keempat atas Peraturan Gubernur Nomor 11 Tahun 2007 tentang Penyesuaian Tarif Otomatis Air Minum Semester 1 Tahun 2007.

Sementara itu Pergub ini, katanya, akan disiapkan untuk seluruh member supaya nantinya dia bisa mendapatkan harga yang lebih murah.

Anies Baswedan Siap Bangun 100 Kios Air Atasi Krisis Air Bersih 

Untuk mengantisipasi langkanya air bersih di wilayah Jakarta Utara, Anies Baswedan melalui Pemprov DKI Jakarta berencana membangun 100 kios air untuk mengatasi krisis air bersih di kawasan tersebut.

Rencana pembangunan kios air bersih ini,  diungkapkan oleh Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris DKI Jakarta Afan Adriansyah Idris.

Diharapkan langkah tersebut, menjadi realisasi dan tindak lanjut dari aksi demo puluhan warga Pluit yang menggelar demo di depan Balai Kota Jakarta.

Selanjutnya Afan juga menyebut bahwa perencanaan pembangunan kios air tersebut kini sedang dimatangkan oleh PDAM.

“Tahun ini sudah dialokasikan untuk 100 lokasi kios air. Nah, itu nanti ada 3 tahap. Tapi saya akan minta tahapan yang secepatnya untuk bisa masuk,” ucapnya di Balai Kota, pada hari Selasa, 22 Februari 2022.  

Sehingga diharapkan dengan adanya pembangunan ratusan kios ini, masalah air bersih yang selama ini menjadi momok bagi warga pesisir utara Jakarta diharapkan bisa menjadi solusi terbaik.

Namun dia menambahkan bahwa meski demikian, masyarakat tidak bisa mendapatkan air bersih tersebut secara cuma-cuma.

Nantinya, mereka akan dikenakan biaya yang sudah diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 57 Tahun 2021.

Aturan itu berisi tentang perubahan keempat atas Pergub Nomor 11 Tahun 2007 tentang Penyesuaian Tarif Otomatis Air Minum Sementara 1 Tahun 2007.

“Tarifnya itu memang pak gubernur sudah menyiapkan tarif subsidi untuk masyarakat yang memang sangat murah dan terjangkau oleh masyarakat,” ujarnya.

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published.